Indonesian-Belgium on Indonesia Remote Sensing Augmentation Program : Satellite System and Application

0
468

Indonesian – Belgium on Indonesia Remote Sensing Augmentation Prgram : Satellite System and Application diselenggarakan oleh Kementerian Koordintor Maritim dan Sumber Daya di Hotel Millenium Jakarta. Pembukaan oleh Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Budaya Maritim, Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam dan Deputy Head of Mission and Counsellor Embassy of Belgium. Dalam sambutannya Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya menyampaikan tentang dukungan penuh terhadap pemanfaatan penginderaan jauh dalam program nasional kemaritiman dan keamanan pangan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengharapkan penerapan teknologi hyperspektral yang merupakan teknologi tinggi dari penginderaan jauh dan pengembangan kerjasama dengan Belgia dalam bidang Maritim, Kehutanan dan Pertanian. Kedutaan Besar Belgia mengungkapkan bahwa Belgia merupakan Negara Kecil dengan Anggaran dibidang antariksa yang cukup tinggi.

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan dukungan Sumber daya Manusia yang tinggi dan Sumber Daya Alam yang melimpah. Banyak prestasi dari Perguruan Tinggi dan Lembaga Riset yang memberikan pengaruh yang besar. Akselerasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan membentuk National System of Remote Sensing Satelite (InaRSSat) yang berkoordinasi pada semua pihak yang terkait. Perlunya Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menjadi wali data dalam kebijakan one database sehingga tidak terjadi duplikasi kepemilikan data citra satelit, Kebutuhan Citra Satelit setiap tahun pada Kementerian/Lembaga mencapai 32 M. Lapan memiliki Bank Data Citra Satelit yang berada di Pare-Pare, Rumpin dan Jakarta dengan Citra satelit Terra/Aqua, SNPP, NOAA, Met-OP, Landsat 7 dan 8, Spot 6 dan 7.

Thierry_Dupre menyampaikan tentang kebijakan keantariksaan Belgia dengan dukungan dana yang besar 202 M Euro pertahun, kerjasama yang telah dilakukan dengan Perancis, Argentina dll, aplikasi hyperspecteral dari terumbu karang sampai daun mangga. Dominique Baudoux mempresentasikan tentang sensor hyperspektral yang dipasang di satelit Proba I-V. Philippe Ledent menyampaikan tentang hyperspectral mampu mengidentifikasi jumlah khorofil pada tanaman pertanian dan tanaman yang mengalami kerusukan. Marc Lennon menyampaikan pemanfaatan hyperspectral untuk aplikasi kelautan dan daerah pesisir, mengetahui komposisi perairan, keadaan terumbu karang, polusi maupun keadaan mangrove. Dr M Sadly menyampaikan kerjasama pengembangan teknologi hyperspectral terutama dengan Belgia, aplikasi yang sudah dikembangkan antara lain observasi kebumian, wilayah pesisir dan pendeteksi ikan. Prof. Bas van Wesemael menyampaikan tentang pemanfaatan hypercpestral untuk hutan dan stok karbon, hyperspectral mampu membedakan jenis tanaman antara padi dan kelapa sawit misalnya, mengetahui keadaan lahan gambut.

Prof. Dewayani Soetrisno menyampaikan tentang penerapan penginderaan jauh dalam kehutanan, kebijakan satu peta, deteksi titik api kebakaran, peta desa dan pemanfaatan hyperspectral dalam akurasi data kehutanan. William Ouellette menyampaikan tentang pemanfaatan hyperspectral untuk pertanian, hyperspectral mampu mengurangi kesimpangsiuran data dalam lahan, Meningkatkan kepastian pertumbuhan tanaman, produktivitas dan model kekeringan. Dr Rizatus Shofiyati menyampaikan tentang penerapan penginderaan jauh dalam pertanian antara lain dalam mendukung aplikasi Kalender Tanam Terpadu (Katam) dan Identifikasi kekeringan. BBPOPT sudah memanfaatkan citra satelit dalam menentukan luas serangan OPT, diharapkan teknogi ini semakin berkembang dan bermanfaat.(Rahmad Gunawan, SP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here