Pahami 5 Aturan Emas

0
181

Mau tanaman selamat dan badan tetap sehat? Jangan lupa, terapkan lima aturan yang dirancang untuk melindungi petani dan lingkungan.  Pengaplikasian produk perlindungan tanaman tidak semata-mata menyemprot tanaman dengan pestisida kemudian selesai.  Lebih dari itu, disamping tanaman dan lingkungan, manusia aplikatornya pun harus terlindungi.  Dalam hal ini, petani perlu mengetahui lebih jauh dan menerapkan lima aturan penting demi keberlanjutan pertanian yang aman dan ramah lingkungan.  Salah satu fokus CropLife Indonesia yaitu menyampaikan tata kelola penggunaan produk perlindungan tanaman.  Ada 5 aturan yang harus diperhatikan :

1Menangani Secara Hati-hati. Saat membeli pestisida, petani sudah harus memperhatikan produk yang akan dibeli.  Jangan pernah menerima kemasan yang tidak utuh atau rusak.  Dan baiknya, jangan memindahkan pestisida dari satu wadah ke wadah lainnya.  Menurut Komite Stewardship CropLife Indonesia, pemindahan wadah bisa berakibat fatal.  Kalau ada yang memerlukan tindakan, tenaga medis harus cek label.  Kalau label beda dari yang aslinya akan bahaya, penanganannya bisa salah. Untuk kios, penempatan produk pestisida harus dijauhkan dari produk makanan dan minuman supaya tidak terkontaminasi.  Paparan langsung lewat mulut hingga saluran pencernaan, itu berbahaya.  Produk harus disimpan dengan baik dan jauh dari jangkauan anak-anak.  Kemudian pencampuran pestisida juga harus diperhatikan.  Jangan mencampur didekat sumber air dan tidak sulit membersihkannya.  Saat pencampuran pestisida, wajib menggunakan alat pelindung diri (APD).  Dan saat pengaplikasian, baiknya dilakukan waktu teduh dan jangan melawan arah angin.                                                                                                                            Hati hati menggunakan pestisida

 

 

 

2Memahami label. Label pada kemasan pestisida wajib dibaca.  Di dalam label, tercantum informasi sasaran hama, sasaran tanaman, dosis penggunaan, metode pengaplikasian, dan tentang keamanan produk.  Selain itu, ada juga petunjuk golongan bahaya, saran keamanan, tata cara penyimpanan, prosedur P3K, dan anjuran bagi petugas kesehatan tentang cara penanganan jika terjadi keracunan.  Di dalam label, ada informasi tingkat racun yang ditunjukkan dengan warna.  Label berwarna merah, termasuk kelas I amat berbahaya yang sangat beracun.  Yang warna merah dilarang peredarannya di Indonesia.  Kemudian ada kelas II berbahaya dengan warna kuning, kelas III agak berbahaya warna biru, dan terakhir warna hijau dengan indikasi aman dalam penggunaan normal.  Ada juga pictogram atau gambar yang tertera dalam label.  Piktogram bisa menjadi petunjuk bagi mereka yang tidak bisa membaca.  Tapi tentu saja pengguna harus diberi informasi dan penjelasan terlebih dahulu tentang gambar tersebut.  Dan bila terjadi keracunan, petani dapat langsung mengontak nomor darurat yang tertera pada label. 3Menjaga kebersihan diri.  Pestisida bisa masuk ke dalam tubuh melalui kulit, mulut, dan pernafasan.  Jadi, setelah menggunakan pestisida, petani harus segera membersihkan badan, pakaian kerja, dan APD.  Sebaiknya petani bersih-bersih sebelum makan, minum, dan merokok.  Bagi petani yang terpapar pestisida melaui kulit, segera lepas pakaian.  Kemudian membasih kulit yang terpapar dengan air bersih dan sabun.  Setelah itu, gunakan handuk untuk mengeringkan dan ganti pakaian bersih.  Jangan oleskan bahan lain pada kulit terutama yang mengandung minyak.  Kemudian segera bawa atau konsultasi ke petugas kesehatan terdekat.  Jika mengenai mata, segera cuci mata yang terkena pestisida dengan air bersih yang mengalir selama sedikitnya 15 menit.  Lalu gunakan kain kassa bersih untuk menutup mata.  Jangan gunakan obat tetes mata.  Setelah itu, segera bawa ke petugas kesehatan terdekat dengan membawa wadah asli yang tertera label di wadahnya.  Apabila terhirup atau terhisap, korban harus segera dipindahkan ke tempat teduh yang berudara segar.  Kemudian longgarkan pakaiannya supaya bisa leluasa bernafas.  Berikan pertolongan dengan menggerakkan tangan korban secara naik turun.  Lalu, hubungi petugas kesehatan terdekat.  Sedangkan apabila tertelan, baca label apakah boleh dimuntahkan atau tidak.  Ada yang tidak boleh dimuntahkan karena bersifat korosif, kuatir mencederai kerongkongan.  Jika boleh dimuntahkan, lakukan pemuntahan kemudian tolong korban dengan memberi minum air hangat yang dicampur satu sendok makan garam dapur.

4Merawat penyemprot.  Petani harus merawat alat semprot (sprayer) dengan baik karena kebocoran sprayer bisa mengkontaminasi badan si pengguna.  Risikonya, mulai dari sedang hingga tinggi.  Pemeriksaan dapat dilakukan dengan uji kebocoran, petani wajib segera memperbaikinya.  Kalau tidak diperbaiki, akan terjadi pemborosan.  Hitungannya, dalam satu menit, ada sekitar 50 ml larutan pestisida terbuang.  Jika lama penyemprotannya 5 jam atau 300 menit, maka petani membuang-buang 15 liter atau satu tangka pestisida.  Petani juga harus pandai mengatur tekanan pada penyemprot.  Sprayer terkini sudah diproduksi dengan tekanan standar sehingga memudahkan petani.

5Menggunakan APD.  Petani wajib mengenakan APD untuk mencegah dan mengurangi risiko terjadinya paparan.  Pemakaiannya harus lengkap.  Terlebih, saat melakukan pengenceran pestisida pekat.  Petunjuk penggunaan APD dapat dilihat pada pictogram yang tertera dalam label.  Saat pencampuran/pengenceran, tubuh harus tertutup semua  Bisa menggunakan apron atau dengan baju dan celana panjag, sarung tangan nitril, pelindung mata, dan sepatu boots sawah.  Petani bisa membuat APD alternatif dengan bahan yang ada di sekitarnya.  MIsalnya, membuat pelindung muka dari bekas botol air mineral transparan.  Untuk pelindung tubuh, bisa memanfaatkan celemek dari karung plastic.  Dan sebagai alternatif sarung tangan, boleh menggunakan kantong kresek.

Selamat mencoba.!

Sumber: CropLife Indonesia Agrina Vol.13 No. 285 – Maret 2018 (Hal 26-27)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here