Menteri Pertanian Menghadiri Acara Tanam Perdana Jagung Serentak Seluruh Indonesia

0
25

Menteri Pertanian didampingi Bupati dan Wakil Bupati Kab. Pringsewu Provinsi Lampung Menghadiri Acara Tanam Perdana Jagung Serentak Seluruh Indonesia.

Pringsewu (04/09/2018) Pekon Srikaton Kecamatan Adiluwih Kabupaten Pringsewu menjadi tuan rumah acara tanam perdana jagung serentak seluruh Indonesia yang merupakan basis atau lumbung pertanian jagung terbesar di Kabupaten Pringsewu.
Bupati dan Wakil Bupati Pringsewu mendampingi Menteri Pertanian Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP., Ketua Bidang Ekonomi PBNU, Anggota DPD RI Anang Prihantoro, Asisten I Provinsi Lampung, anggota DPRD Pringsewu, Dirjen PPMD Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Taufik Majid, Aster KASAD Mayjen TNI Supartodi, Direktur Bulog, Direktur Utama PT. Pertani Persero, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Lampung, FORKOPIMDA Kabupaten Pringsewu, Kepala OPD Kabupaten Pringsewu, ormas, tokoh agama, pemuda serta kelompok tani dari beberapa kabupaten di provinsi Lampung.

Pada acara ini juga dilakukan Perjanjian Kerjasama antara PBNU dengan Lembaga Pembiayaan Dana Bergilir (LPDB) oleh Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; Bulog Wilayah Lampung; Perusahaan pengepul jagung oleh CV. Anisa Jaya, Koperasi Assaadah serta Koperasi NU Pesawaran. Bantuan langsung dari Menteri Pertanian juga diberikan berupa bibit pala, bibit lada, bibit kopi dan kakao. Di samping itu juga diberikan bantuan berupa traktor roda dua sebanyak 10 unit, pompa air 10 unit dan mesin tanam jagung sebanyak 10 unit.

Kementan Dorong Petani Tetap Produktif Manfaatkan Lahan Rawa dan Lahan Kering Saat Kemarau

Musim kemarau tak menyurutkan petani Indonesia untuk berproduksi padi. Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong semangat para petani dengan beberapa strategi agar tetap bisa mencukupi kebutuhan di dalam negeri. Tidak hanya mendorong pemaksimalan lahan sawah dengan mekanisasi penyediaan air, tetapi juga melalui upaya untuk memanfaatkan lahan rawa dan lahan kering.

Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyebutkan bahwa luas lahan sawah di Indonesia mencapai 8.186.469 hektare. Pada saat musim kemarau, lahan sawah masih dapat tetap dioptimalkan untuk menanam komoditas pangan, namun perlu diimbangi dengan upaya untuk penyediaan air. “Pada musim kemarau, produksi padi sawah dapat diantisipasi dengan memanfaatkan embung, bendungan dan waduk. Selain itu, perbaikan sistem irigasi cukup bisa mengantisipasi dampak kekeringan,” kata Sumarjo Gatot Irianto Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan pada Senin (03/09/2018).

Menurutnya selama masih ada sumber air, menanam komoditas pangan di lahan sawah justru bisa meningkatkan kualitas produksi. “Sinar matahari pada musim kemarau cukup panjang sehingga cukup baik untuk fotosintesis. Proses pengeringan juga lebih mudah dan menghemat biaya. Selain hasil yang lebih bagus, serangan hama penyakit relatif berkurang,” terang Gatot.

Selain lahan sawah, Kementan juga mendorong petani untuk memanfaatkan lahan rawa yang pada musim kemarau biasanya akan surut. Gatot menambahkan, lahan rawa sebagai lahan sub optimal memiliki potensi luas 12,3 juta hektare, namun pemanfaatannya belum optimal. Dari potensi tersebut, baru dimanfaatkan seluas 4.527.596 hektare (36,8%) untuk produksi pertanian. “Ini adalah kesempatan untuk penambahan luas areal tanam baru buat produksi padi di musim kemarau,” tukas Gatot.

Tak mau ketinggalan dengan meningkatnya konsumsi pangan seiring pertambahan jumlah penduduk, Kementan juga berupaya keras memanfaatkan lahan kering. Luas lahan kering di Indonesia juga sangat besar, yakni 28.577.848 hektare termasuk ladang, tegalan dan lahan yang tidak diusahakan menjadi Perluasan Areal tanam Baru (PATB). Gatot menegaskan saat ini Kementan menjadikan pengembangan lahan kering sebagai fokus untuk pengembangan budidaya padi.

Teknologinya pun sudah dipersiapkan, yakni dengan mendorong petani untuk menanam padi gogo. Kementan untuk pertamakalinya dalam sejarah menargetkan pertanaman 1 juta hektare padi gogo pada tahun 2018. Pada musim kemarau, padi gogo di lahan kering dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin karena hasil panen lebih bagus, hama lebih sedikit, hemat air, juga sinar matahari cukup baik untuk fotosintesis dan kualitas gabah lebih baik. “Selain padi gogo, lahan kering juga sangat cocok untuk ditanami jagung. Pada musim kemarau, jagung juga akan memberikan hasil yang bagus,” ujar Gatot.

Gatot juga menekankan, ketiga tipe lahan di atas dapat terus dioptimalkan untuk mendukung peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) dengan model tumpangsari, yaitu kombinasi antara padi, jagung, dan kedelai. Kunci utama tumpangsari ini yaitu penambahan populasi dan penggunaan benih berkualitas. Dengan menggunakan konfigurasi jarak tanam yang tepat, 1 hektare lahan dapat menghasilkan 2 hektare jagung dan 1 hektare padi, 2 hektare jagung dan 1 hektare kedelai atau 1 hektare padi dan 1 hektare kedelai. Penanaman tumpangsari juga dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk.

Gatot menekankan, dengan pendekatan tumpangsari ini dapat mengeliminasi persaingan lahan antar komoditas dan juga dapat mengoptimalkan produksi padi tanpa tergantung musim. Lahan sawah beririgasi saatnya berproduksi maksimal, organisme pengganggu tumbuha (OPT) rendah, biaya produksi murah hasilnya maksimal dan harga gabahnya bagus. “Kemarau juga saat ideal untuk memutus siklus OPT. Jadi kemarau bukan petaka tapi berkah. Kemarau dan musim hujan itu sudah Sunatullah. Semua membawa manfaat masing-masing,” pungkasnya. (sumber FB : Ditjen TP)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here