Antisipasi Perubahan Iklim, Contohkan Petani dengan PPDPI

0
180

Perubahan pola pikir petani dalam mengantisipasi iklim khususnya di daerah rawan banjir dan kekeringan sangat penting dilakukan. Karenanya, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan menggunakan Penerapan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PPDPI).

Dalam kegiatan PPDPI tersebut, Dem Area Penanganan DPI dilakukan untuk memberikan contoh dan memotivasi petani untuk menerapkan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap DPI (banjir/kekeringan) di lahan usahataninya, serta meminimalkan resiko kehilangan hasil akibat DPI (banjir/kekeringan).

Kegiatan Dem Area Penanganan DPI merupakan suatu metode percontohan penerapan penanganan DPI pada suatu hamparan tanpa batasan wilayah administratif dengan luas kurang lebih 50 ha yang bertujuan untuk mengelola pertanaman padi sehingga aman dari kerusakan terhadap banjir dan kekeringan.

“Perbedaan antara PPDPI Kementan dan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah PPDPI yang dilaksanakan oleh Kementan pendekatannya lebih dikaitkan dengan budidaya tanaman pangan, sedangkan yang dilaksanakan oleh BMKG pendekatannya khusus cara penggunaan alat meteorologi,” terang Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Edy Purnawan.

Edy menyampaikan, Program PPDPI di Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan yang sekarang menjadi PPDPI ini sangat bermanfaat, tidak hanya pada musim hujan tetapi juga pada musim kemarau.

Hasil dari pelaksanaan PPDPI, memperlihatkan bahwa petani sangat apresiasi terhadap kegiatan ini dan produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum melaksanakan program ini.

Bertia Terkait :

PEMASANGAN TRAP BARRIER  SYSTEM (TBS) MERUPAKAN TEKNIK PENGENDALIAN TIKUS SAWAH

GERDAL TBS PLUS DI POKTAN MARGAASIH-1, KEL. MEKARJATI, KARAWANG BARAT

Teknologi Adaptif PPDPI merupakan pemberdayaan petani dalam pengamanan areal pertanaman padi dari dampak perubahan iklim melalui penerapan teknologi adaptif di lahan usahataninya terutama pada daerah rawan terkena banjir/kekeringan, sehingga mengurangi resiko kehilangan hasil akibat banjir/kekeringan.

Program ini memanfaatkan teknologi sederhana yang diterapkan oleh kelompok tani sesuai dengan kriteria dan spesifikasi lahannya.

Berkat program PPDPI, petani kini sudah dapat menerapkan pengetahuan yang berkaitan dengan iklim dan cuaca (skala sederhana) dalam melaksanakan budidaya pertaniannya serta melakukan upaya adaptasi terhadap perubahan iklim, dan secara komprehensif digabungkan dengan varietas tahan cekaman banjir/kering, penggunaan pembenah tanah, agens hayati, dan lain-lain.

Pada wilayah rawan banjir, teknologi yang diterapkan adalah biopori. Sedangkan pada wilayah rawan kekeringan sumur suntik/pantek sebagai alternatif atau solusi pengairan pada saat mengalami keterbatasan air akibat sungai dan irigasi yang kering.

Dengan memanfaatkan air dalam tanah, dibuat titik sumur untuk selanjutnya dipompa menggunakan mesin pompa portable.

Penggunaan teknologi biopori maupun sumur suntik, tidak saja di satu musim tanam tetapi dapat digunakan secara berkelanjutan pada musim tanam selanjutnya. Kegiatan PPDPI yang dilaksanakan mulai 2015 hingga kini alokasinya terus bertambah, secara kumulatif mencapai 1.260 ha (126 unit) yang tersebar di 19 provinsi.

“Keunggulan program ini adalah petani secara cepat dan sederhana dapat menerapkan dan sekaligus menetapkan aspek-aspek unsur cuaca di lapangan dalam pelaksanaan budidaya tanamannya,” ungkapnya. Sumber (Humas Ditjen TP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here