Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Benih (Seed Borne Disease) pada Padi

0
542

Padi (Oryza sativa) merupakan komoditas pangan pokok karena dikonsumsi sebagian besar penduduk Indonesia. Peningkatan produksi padi telah banyak dilakukan namun sering terjadi kendala penurunan produksi padi diakibatkan oleh penyakit yang menyerang tanaman padi. Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya tanaman padi. Penyakit pada tanaman padi salah satunya bersumber dari benih yang digunakan. Benih dapat diserang oleh berbagai macam patogen. Patogen dapat berupa jamur, bakteri, virus, nematoda dan mikroorganisme lainnya baik di dalam maupun permukaan benih. Sebagian besar patogen tular benih adalah jamur (Agarwal & Sinclair, 1987)

Benih bermutu tinggi yaitu benih yang memiliki mutu genetik, fisiologi, dan fisik yang baik. Ciri-ciri benih yang bermutu yaitu benih bernas dan seragam, bersih (tidak tercampur dengan biji gulma atau biji tanaman lain), daya berkecambah dan vigor tinggi sehingga dapat tumbuh baik jika ditanam di sawah, sehat (tidak terinfeksi oleh patogen maupun serangan hama) serta benih berlabel (benih yang sudah lulus proses sertifikasi yang merupakan salah satu bentuk jaminan mutu benih). Benih yang digunakan dalam budidaya tanaman padi adalah benih yang bebas dari mikroorganisme atau patogen seperti jamur, bakteri, virus dan nematoda. Patogen benih dapat menimbulkan kerugian seperti penurunan daya perkecambahan, turunnya kualitas benih yang diakibatkan oleh kerusakan bentuk fisik dan warna benih. Benih yang telah terinfeksi patogen tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman namun dapat pula menyebabkan keracunan (Sutopo, 2002; Ominski et al., 1994)

Contoh benih padi bergejala penyakit (Dok. Velia, 2019)

Sebagian besar penyakit pada padi merupakan penyakit tular benih. Beberapa penyakit penting yang bersifat tular benih antara lain kresek atau hawar daun bakteri (Xanthomonas campestris pv. oryzae), daun bergaris bakteri atau bacterial leaf streak (Xanthomonas campestris pv. oryzicola), Bacterial Grain Rot (Bulkhorderia glumae), blas daun dan blas leher (Pyricularia grisea), penyakit bercak coklat sempit (Cercospora oryzae), busuk pelepah (Sarocladium oryzae), penyakit noda palsu (Ustilaginoidea virens), dan kembang api (Ephelis oryzae).

Pencegahan dan pengendalian penyakit tular benih pada padi dapat dilakukan dengan cara seleksi dan perlakuan benih. Seleksi benih dilakukan dengan memilih benih yang bagus dan bermutu secara fisik. Salah satu proses seleksi benih dapat dilakukan dengan perendaman air garam 5%. Apabila telor dimasukkan ke air garam dan terangkat 45º berarti air garam siap digunakan untuk seleksi benih. Benih yang tenggelam menunjukkan benih berisi sedangkan benih yang terapung biasanya merupakan benih yang kurang berisi atau hampa. Benih yang terapung dapat dibuang kemudian benih yang tengelam (berisi) dapat dibilas dengan air untuk menghilangkan sisa garam yang dapat menyebabkan keracunan pada benih. Selanjutnya benih dapat diperam selama 1-2 malam.

Langkah selanjutnya adalah perlakukan terhadap benih. Tujuan perlakuan benih yaitu mematahkan masa dormansi benih untuk perkecambahan serta merupakan perlindungan awal tanaman terhadap serangan hama dan penyakit terutama pada stadia bibit. Perlakuan benih dilakukan melalui perendaman dengan larutan Paenibacillus polymyxa dengan konsentrasi 5ml/liter selama 15 menit, untuk menambah agen antagonis pada benih sehingga meningkatkan kekebalan terhadap penyakit. Setelah itu benih dapat ditebar pada persemaian.

Studi yang telah dilakukan di BBPOPT tentang perlakuan benih dengan menggunakan Paenibacillus polymyxa menghasilkan perkecambahan total sebesar 82,7%, sedangkan perkecambahan benih padi tanpa diseleksi dan tanpa diberikan perlakuan Paenibacillus polymyxa menghasilkan perkecambahan total sebesar 56%. Dari sisi perkembangan OPT, rumpun tanpa perlakukan ditemukan gejala hawar daun bakteri, penyakit bercak sempit, dan busuk pelepah dengan intensitas rata-rata sebesar 39,3%; 60,1%; dan 40%, sedangkan dengan perlakuan Paenibacillus polymyxa pertumbuhan tanaman tinggi, bulir sebagian besar sehat, intensitas penyakit dominan yang ditemukan hanya penyakit hawar daun bakteri, penyait bercak sempit dan busuk pelepah dengan rata-rata intensitas sebesar 9,1%; 11,3%; dan 1,5%.

Penulis: Rista Susanti, S.Si

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here