Kementan Gandeng Petani Lakukan Gerakan Pengendalian Serangan Ulat Grayak

0
38

“Jika telur sebanyak tersebut menetas menjadi larva, tentunya dapat merusak tanaman. Telur ulat ini sendiri, biasanya ditaruh di daun muda baik di permukaan atas maupun bawah dan jika petani mendeteksinya, bisa langsung diambil dan dimatikan sehingga tidak menetas,” jelasnya.

Akan lebih baik jika telur itu ditaruh di dalam bambu, pinggir bambu diberi perekat, jadi saat larva menetas, telur yang terparasit tetap bisa hidup dan memangsa telur lain sambung Willing.

“Penanaman jagung secara serentak dapat mengurangi ketersediaan inang, sehingga dapat menghambat perkembangan hama,” tambahnya.

“Namun jika hama sudah menyerang cukup parah, maka bisa menggunakan insektisida yang berbahan aktif emamektin benzoat, spinetoram, klorantraniliprol, atau tiomektosam,” lanjutnya.

Selain pestisida yang beredar di pasaran, petani juga dapat menggunakan pestisida nabati ekstrak daun mimba (Azadirachta indica). ” Kita sudah melakukan pengujian di laboratorium, hasil uji efikasi mortalitas larva instar kecil dapat mencapai 80% dengan dosis 80 gr/liter ekstrak daum mimba,” pungkas Willing.

Suwarman selaku Kepala Bidang Pelayanan Teknis Informasi dan Dokumentasi (Yantekindok) BBPOPT menuturkan, pengendalian paling efektif dilakukan pada sore sampai malam hari. Hal ini ia sampaikan saat memberikan arahan dalam acara gerakan Pengendalian secara masal. Pada saat gerakan tersebut hasil pengendalian menggunakan b.a Emamektin benzoate menunjukkan bahwa larva mati sebanyak 93.3% setelah 1 hari.

Gerakan pengendalian secara masal dilakukan bersama para petani di Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. “Tim turun ke Tuban karena ada laporan mengenai serangan ulat grayak. Selain untuk mengambil contoh hama untuk dikaji lebih lanjut, pihaknya juga memberikan penyuluhan mengenai tata cara pengendalian,” pungkas Suwarman (sumber : news.okezone.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here